Tips dan Trik Menghindari Lubang di Jalan bagi Disabilitas Netra Total

Table of Contents

RajaNetra, Jakarta — Minggu, 11 Januari 2026, seorang penumpang penyandang disabilitas netra terjatuh ke selokan setelah turun dari layanan Transcare milik PT Transportasi Jakarta (Transjakarta). Insiden tersebut terjadi di sekitar halte dan diduga adanya sedikit kelalaian serta pengamanan area turun penumpang.

Berdasarkan pemberitaan media nasional, korban merupakan pengguna layanan Transcare yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas. Dalam keterangan yang dikutip dari tempo.co.id, korban menjelaskan bahwa pada hari kejadian kondisi layanan cukup ramai sehingga korban agak riskan untuk meminta tolong diantarkan.

“Biasanya, walau menumpang, saya tetap dituntun sampai ke tempat tap kartu. Namun karena saat itu Transcare cukup ramai, saya mengikuti arahan petugas untuk berjalan lurus mengikuti guiding block,” ujar korban sebagaimana dikutip dari Tempo.

Akibat kejadian tersebut, korban terjatuh ke selokan dan mengalami luka ringan. Ia segera mendapat pertolongan dari warga sekitar sebelum akhirnya kondisinya dipastikan dalam keadaan stabil.

Menanggapi peristiwa itu, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Seperti dilansir Okezone.com dan iNews.id, manajemen Transjakarta mengaku menyesalkan insiden tersebut dan menyatakan telah melakukan komunikasi langsung dengan korban. Transjakarta juga menyampaikan komitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar pelayanan Transcare, khususnya terkait pendampingan penumpang disabilitas hingga ke titik aman.

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang menimpa pelanggan disabilitas dan akan melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” demikian pernyataan resmi pihak Transjakarta yang dikutip dari Okezone.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turut menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut. Dalam pemberitaan MSN Indonesia yang mengutip keterangan Pramono kepada wartawan, ia menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak boleh terjadi kembali.

“Yang seperti ini tidak boleh terulang kembali. Saya akan memberikan teguran kepada jajaran direksi dan manajemen Transjakarta. Dan secara khusus untuk kejadian ini, saya minta maaf,” ujar Pramono. Ia juga menekankan bahwa aksesibilitas dan keselamatan penyandang disabilitas merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah dalam menyediakan layanan publik yang inklusif.

Di sisi lain, sejumlah pegiat disabilitas menilai insiden ini menunjukkan masih lemahnya perlindungan bagi penyandang disabilitas netra di ruang publik. Mereka mengingatkan bahwa tanpa perbaikan serius pada infrastruktur dan standar pendampingan, risiko kecelakaan serupa tetap ada.

Sebagai langkah mitigasi, RajaNetra membagikan beberapa tips dan trik bagi penyandang disabilitas netra total ketika harus berjalan di jalan umum tanpa pendamping. Di antaranya adalah:

  • memastikan penggunaan tongkat dengan teknik yang tepat untuk mendeteksi perubahan permukaan jalan. Pastikan posisi tongkat sejajar dengan tubuh seblum digunakan untuk menelusuri jalan sekitar. Pastikan juga tongkat selebar bahu dan memegang tongkat pada Grip atau bagian atas tongkat dan pegang dengan tangan kanan/kiri lalu genggam tongkat dengan posisi jari telunjuk berada di atas serta mengarah kedepan. Posisi ibu jari dan ketiga jari yang lain berada di sekeliling pegangan tongkat yang berfungsi ntuk menunjang agar pegangan menjadi okoh.
  • Memanfaatkan suara lingkungan sebagai alat orientasi, jangan keburu jalan ketika baru turun dari transportasi umum. Diam dulu selama beberapa detik agar telinga kita dapat menangkap situasi sekitar sehingga aman ketika melangkah.
  • Jangan sungkan untuk bertanya, sapa dan mintalah pertolongan kepada siapapun yang kita temui di jalan.
  • Ucapkan salam dan sapa dengan perkataan yang baik dan sikap sopan. Beritahu ke mana tujuan kita dan tanyakan arah lokasi yang mau kita tuju. Tanyakan ada apa aja di sekitaran jalan yang akan kita lalui agar kita dapat berhati-hati apabila tidak diantar.

Insiden ini kembali menegaskan bahwa keselamatan penyandang disabilitas di ruang publik bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan kewajiban bersama. Pemerintah daerah, penyedia layanan transportasi, serta masyarakat diharapkan dapat berperan aktif menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan ramah bagi semua.

Sumber informasi

 

 

Penulis: Choerul Azhar

 


Posting Komentar