Sinyal Hati
Sinyal Hati
“Oke, kamu saya turunkan di sini yaaa.” Pak Abdullah pun memberhentikan mobilnya dan mengajak Fajri untuk turun.
“Ini ada di Jl. Buaran, tepatnya di depan toko sembako Pak Suyatno. Di sebelah kanan kamu ada plang yang bertuliskan Jl. Buaran, lalu di sebelah kiri ada pertigaan jalan. Tenang, nanti bakal ada angkot yang lewat, atau kalau tidak, saya tungguin deh sampai angkot lewat.” Sambungnya.
“Tidak usah, Pak. Aduh, terima kasih banget nih udah nganterin, maaf jadi merepotkan.” Respond Fajri.
“Nggak kok, nggak repot. Daripada kamu jalan kaki ke sini, kan jauh juga. Ya sudah, saya tunggu sampai ada angkotnya. Saya juga mau ngerokok dulu.”
“Wah, ternyata lama juga yaaa. Bagaimana, apakah saya tetap temani sampai angkot lewat?”
“Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri.”
“Loh, bagaimana kamu bisa tahu? Kan kamu tunanetra.”
“Tenang, Pak, In syaallah nanti ada yang membantu.”
“Serius?”
“Iya, Pak.”
Fajri melambaikan tangan ke arah suara Pak Abdullah dan melemparkan senyuman sebagai tanda terima kasih karena telah diantar hingga pertigaan Buaran.
Meskipun tidak bisa melihat, dia tau betul bagaimana cara berterimakasih kepada orang yamg telah berbuat baik, baik dengan ucapan maupun dengan sikap.
Fajri merasa tenang karena Pak Abdullah telah mengantarkannya ke tempat yang mudah diakses.
Fajri berdiri di depan toko sembako Pak Suyatno, merasakan angin sepoi-sepoi menyentuh wajahnya. Dia mencium aroma khas dari toko sembako, campuran beras, tepung, dan rempah-rempah. Suara klakson kendaraan dan obrolan orang-orang di jalanan terdengar riuh di telinganya.
Fajri menunggu beberapa saat, tapi tak ada tanda-tanda angkot yang lewat. Dia mulai merasa sedikit cemas. Tepat saat dia hendak duduk di trotoar, sebuah suara ramah menyapa telinganya.
"Permisi, Mas. Butuh bantuan apa?"
Fajri menoleh ke arah suara itu. Seorang wanita muda dengan senyum hangat berdiri di depannya.
"Aku sedang menunggu angkot untuk ke halte, mbak." Jawab Fajri.
"Oh, begitu. Baiklah, Mas. Biar aku temani. Kebetulan aku juga lagi nunggu angkot ke tujuan yang sama." Kata wanita itu dengan penuh semangat.
Fajri merasa lega dan bersyukur atas kehadiran dan kebaikan wanita itu. Mereka saling berjabat tangan sebagai simbol perkenalan.
Wanita itu berdiri sejajar dengan Fajri.
Dirasa membosankan karena hanya diam, akhirnya wanita itupun membuka tema percakapan dengan Fajri.
Wanita itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kalo dia adalah Nayla Sisilia Putri, seorang Mahasiswi semester 5 prodi manajemen pendidikan.
Fajri pun memperkanalkan dirinya dan menceritakan tentang kesehariannya sebagai mahasiswa PAI semester 2 dan seorang pengusaha dinsum. Wanita yang ditafsir usianya sekitar 19 tahun itu mendengarkan dengan penuh perhatian, serta sangat kagum dengan Fajri, sebab meskipun ia memiliki keterbatasan namun ia tetap semangat menjalani hidup dan berusaha melakukan yang terbaik untuk kehidupannya.
"Baik,mas, angkot kita sudah mau datang. Bentar tapi, masih agak jauh dari kita. Nanti dia bakal ke sini."
"Baik, mas, tolong pegang tas aku, hati-hati yaa naiknya!"
"Mas kuliah di mana?"
"Di Buaran University, mbak."
"Udah, jangan panggil aku mbak, panggil aja Nayla."
"Wah, di situ? Aku juga iya. Kok kita nggak pernah ketemu yaa?" Lanjut Nayla.
"Ini sekarang kita kan ketemu. Mungkin jodoh kita dipertemukannya di pertigaan Buaran." Guyon Fajri.
"Hahahahaha, bisa aja sih, ternyata guyonan juga yaaa.
"Eh, aku boleh minta kontaknya? Tanya Nayla.
"Nggak usah minta kontak, kan kita sudah terhubung. Terhubung oleh sinyal hati." Respond Fajri.
"Apa sih, bisa aja. :)"
"Baiklah, sampai bertemu kembali.
"Dadah!"
"Dadah juga!"
Mereka saling berjabattangan ketika salah satu bus yang mereka mau tumpangi telah datang.